Pendakian Gunung Ciremai 3.078 mdpl via jalur apuy
pendkian Gunung Ciremai Via Jalur Apuy
Jika Jawa Timur punya Semeru (3,676 mdpl), dan Jawa Tengah punya Slamet (3,428 mdpl), maka Jawa Barat punya Gunung Ciremai (Ceremai/Cermai?) sebagai puncak tertingginya. Gunung berketinggian 3,078 mdpl ini sendiri terletak di antara 3 kabupaten, yaitu; Cirebon, Kuningan, dan Majalengka.
Setidaknya ada 3 jalur pendakian Gunung Ciremai yang bisa dipilih para pecinta kegiatan alam bebas, yaitu; via Apuy (Majalengka), via Palutungan (Kuningan), atau via Linggarjati (Kuningan). “Kabar baiknya,” di antara beberapa gunung yang terdapat di Pulau Jawa, hanya Gunung Ciremai saja yang memiliki titik awal pendakian paling rendah: 700 mdpl (via jalur Linggarjati).
Berdasarkan pertimbangan beratnya medan dan waktu yang terbatas, jalur Linggarjati jelas harus dihindari. Sebagai pengganti, saya pilih start mendaki via jalur Apuy yang terletak di Kampung Apuy, Desa Argamukti, Kecamatan Majalengka.
Dalam pikiran saya, gunung bertipe stratovolcano aktif ini termasuk gunung yang sangat menakutkan. Baik ‘menakutkan’ secara fisik (dengan trek yang menyiksa), maupun secara mental (dengan banyak bertebarannya cerita-cerita misteri yang lumayan bikin ciut nyali).
Kalau boleh jujur, sebetulnya acara pendakian Gunung Ciremai (kadang disebut Cerme) tak ada dalam agenda kami—saya dan suami. Tapi, demi melihat jadwal libur yang terlalu sayang untuk dilewatkan itu, pasangan keluarga dari kasta pekerja ini nekat berangkat juga. Tanpa rombongan, tanpa komunitas. Hanya berdua. Biar romantis. Yah, walau sempat berharap juga, moga-moga di perjalanan nanti bisa bertemu dengan teman sependakian lain yang mau menemani saya.
Persiapan dilakukan dengan sangat mendadak. Pulang kerja, yang dituju pertama kali bukan rumah, melainkan minimarket – untuk membeli dan melengkapi perbekalan logistik.
Seperti biasa, anak-anak saya selalu ngomel setiap melihat kedua induknya mulai bongkar-bongkar perabotan lenong dan siap-siap packing. “Pasti mau kabur!” katanya.
By the way, anak saya sudah 3 lho… *Iklan layanan masyarakat ini sangat bisa diabaikan
30 Desember 2015
(Serang – Slipi)
Pukul 20.30, perjalanan kami mulai dari Kota Serang menggunakan armada Bus Luragung jurusan Merak-Cirebon. Kalau diingat-ingat, ini adalah kali pertama saya mencoba bus jurusan Cirebon. Di luar dugaan, supir bus ekonomi ini ternyata seorang pribadi yang amat luar biasa! Luar biasa ahli bikin hati penumpang keki. Bayangkan: Ngetem sampai 3.5 jam! Start dari Slipi setelah berganti hari—pukul 00.00.
Itu pun belum menghitung jajaran bangku-bangku bakso yang dijejalkan hampir menutupi seluruh bagian lowong kabin bus. Mungkin kalau gerobaknya muat, bakal dimasukkannya juga.
31 Desember 2015
(Palimanan – Apuy – Pos 5 (Sanghyang Rangkah))
Pukul 03.00 dini hari, kami tiba di Palimanan. Melanjutkan perjalanan dengan menumpang Elf jurusan Kadipaten. Ongkos 20,000 Rp per orang dibayar kontan. Dan sebagai imbalan dari mereka; kami dioper!
Ah, jangan lupa tambahkan bumbu tipu-tipu. Karena ongkos sebenarnya tidak sebesar itu. “Cuma kurang dari 10,000 Rp.” Begitu kata penumpang lain yang saya temui. Dikarenakan informasi ini didapat dari orang-orang yang tidak berkepentingan mengambil keuntungan dari saya, maka saya anggap apa yang dikatakannya itu adalah benar adanya.
Ya wes, gak papa. Yang penting kami sampai dengan selamat.Pada elf operan, kami bertemu dengan para pendaki domisili Maja yang baru saja turun dari Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Kalau Gunung Slamet juga mereka daki, maka lengkaplah istilah “Triple S” yang biasanya dijadikan target pendakian simultan hiker kawakan dalam sekali perjalanan.
Dari para pendaki Maja ini, saya memperoleh petunjuk ke jalan yang benar. Eh… jalan menuju Basecamp Apuy, maksudnya.
Sesampainya di Kadipaten, perjalanan kami lanjutkan dengan menumpang elf (again) jurusan Bandung-Cikijing, dengan target: Pasar Maja. Ongkos dikutip 10,000 Rp per orang. Entah ini nominal tipuan atau betulan, saya tidak peduli lagi. Pada titik ini, perasaan ‘malas’ dan kantuk terasa lebih menarik untuk dijadikan pilihan.
Pukul 05.00 sampai juga kami di Pasar Maja. Ternyata sudah banyak pendaki lain yang datang lebih dulu daripada kami. Demi mengembalikan tenaga, kami sarapan di areal pasar, sekaligus melengkapi kekurangan logistik yang belum sempat dibeli.
Di sini kami berkenalan dengan 2 orang pendaki asal Bekasi. Dari rapat pasar yang dihadiri oleh 4 pendaki dari dua fraksi berbeda ini, akhirnya ditandatanganilah kesepakatan proyek pendakian bersama Gunung Ciremai 2016.
Untuk mencapai Basecamp Apuy, setidaknya ada 2 alternatif transportasi yang bisa kita gunakan dari sini, yaitu: ojek sepeda motor atau mobil bak terbuka/pick up/mobil pin. Mobil ini biasanya digunakan oleh warga Desa Apuy untuk mengangkut dan mendistribusikan hasil pertanian mereka dari kebun ke pasar-pasar di sekitar Majalengka.
Demi optimalisasi pendapatan, sebelum kembali ke Desa Apuy, umumnya para pemilik mobil pin ini menggeser fungsi kendaraan angkut barang mereka menjadi kendaraan angkut orang (pendaki), dengan tarif 30,000 Rp per orang. Dan tidak akan berangkat sebelum kuota penumpang (10-13 orang) terpenuhi.
Perjalanan dari Pasar Maja menuju Desa Apuy ternyata sangat indah. Kita bisa melihat pemandangan Kota Majalengka membentang luas. Jadi, jangan simpan kamera kalian.
Jalan menuju Desa Apuy relatif sempit, diapit perkebunan warga di sisi kanan dan kiri. Rentan nyungsep. Kenyataan bahwa mobil ini tidak terperosok, cukup membuktikan kalau sang supir sangat lihai dan berpengalaman.
Butuh waktu kurang lebih 1 jam, dari Pasar Maja ke Basecamp Apuy. Tidak seperti Gunung Gede Pangrango yang mewajibkan booking terlebih dahulu, di sini kita bisa langsung registrasi.









